ISPA di Kota Jambi Tembus 11.283 Kasus, Seluruh Kabupaten/Kota Diminta Waspada

  • Whatsapp

JAMBI — Kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) di Kota Jambi mencapai 11.283 kasus hingga 9 Oktober 2026. Peningkatan tersebut menjadi perhatian di tengah memburuknya kualitas udara akibat kabut asap yang berkaitan dengan kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Berdasarkan data surveilans penyakit yang dirilis Posko Tanggap Darurat Bencana BPBD Kota Jambi, selain ISPA, tercatat 1.339 kasus diare dan 512 kasus konjungtivitis atau radang mata. Dengan demikian, total kasus dari ketiga kelompok penyakit tersebut mencapai 13.134 kasus.

Kepala BPBD Kota Jambi, Doni Sumatriadi, menyampaikan bahwa ISPA menjadi penyakit dengan jumlah kasus tertinggi dalam data surveilans tersebut, yakni mencapai lebih dari 11 ribu kasus.

Angka ini menjadi perhatian serius, terutama di tengah kondisi lingkungan yang belum sepenuhnya membaik dan risiko paparan asap yang dapat mengganggu kesehatan masyarakat.

Kasus ISPA Bertambah 1.132 dalam Enam Hari

Data surveilans menunjukkan peningkatan jumlah kasus dibandingkan pencatatan hingga 3 Oktober 2026.

Pada periode tersebut, tercatat 10.151 kasus ISPA, 1.170 kasus diare, dan 468 kasus konjungtivitis, dengan total 11.789 kasus.

Dalam kurun waktu enam hari, kasus ISPA bertambah sebanyak 1.132 kasus. Sementara itu, kasus diare meningkat 169 kasus dan konjungtivitis bertambah 44 kasus.

Secara keseluruhan, jumlah ketiga kelompok penyakit tersebut meningkat sebanyak 1.345 kasus dalam enam hari.

Peningkatan ini menjadi sinyal penting bagi pemerintah daerah dan instansi terkait untuk memperkuat langkah antisipasi, terutama apabila kondisi kualitas udara kembali memburuk akibat kabut asap karhutla.

Kabupaten/Kota di Provinsi Jambi Diminta Tingkatkan Kewaspadaan

Meningkatnya kasus ISPA di Kota Jambi perlu menjadi perhatian bagi seluruh pemerintah kabupaten dan kota di Provinsi Jambi. Langkah pencegahan dan kesiapsiagaan kesehatan perlu diperkuat sebelum terjadi lonjakan kasus serupa di daerah lain.

Dinas kesehatan, fasilitas pelayanan kesehatan, serta instansi terkait diharapkan meningkatkan pemantauan terhadap perkembangan penyakit yang berpotensi dipengaruhi kondisi lingkungan.

Selain itu, masyarakat perlu mendapatkan informasi mengenai risiko paparan asap, gejala gangguan pernapasan, dan langkah perlindungan kesehatan, khususnya selama kualitas udara berada pada kondisi tidak sehat.

Paparan asap dan partikel pencemar akibat karhutla dapat memperburuk gangguan pernapasan, terutama pada kelompok rentan. Karena itu, upaya pengendalian karhutla dan pemantauan kualitas udara juga menjadi bagian penting dalam mengurangi risiko kesehatan masyarakat.

Masyarakat Diimbau Kurangi Aktivitas di Luar Ruangan

Gejala ISPA dapat berupa batuk, pilek, sakit tenggorokan, hingga gangguan pernapasan. Anak-anak, balita, lanjut usia, serta masyarakat yang memiliki penyakit tertentu perlu mendapat perhatian lebih ketika kualitas udara memburuk.

Masyarakat diimbau mengurangi aktivitas di luar ruangan saat udara tercemar. Apabila harus beraktivitas di luar, warga disarankan menggunakan masker yang sesuai untuk mengurangi paparan partikel, menutup jendela saat asap pekat, serta menjaga kecukupan cairan dan menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat.

Warga yang mengalami sesak napas, kesulitan bernapas, atau gejala yang semakin berat sebaiknya segera mencari pertolongan medis.

Peningkatan kasus ISPA di Kota Jambi ini menjadi pengingat penting bagi seluruh daerah di Provinsi Jambi untuk memperkuat kewaspadaan, meningkatkan pemantauan kesehatan, dan mengambil langkah pencegahan sejak dini guna melindungi masyarakat dari dampak kabut asap karhutla.(dst)

Loading

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *